Sunday, 12 June 2011

Between Alcohol and Cigarettes You'll Find Your Zen

jika kamu disuruh memilih untuk bertanya kepada 2 jenis orang, mana yang akan kamu pilih?
1) Orang yang lagi menikmati bergelas-gelas bir, dan perbincangan terjadi ditengah kepulan asap rokok.
2) Orang yang sedang minum jus, dan pembicaraan terjadi di bangku taman di siang hari yang cerah.

saya memilih pilihan pertama.
yes we all know alcohol and cigarettes are bad. Oh you don't know about it? good, you're exactly the right person I will look if I really need to ask an honest answer.
disaat alkohol dan nikotin berselancar di dalam darahmu, maka kamu akan kembali menjadi sesosok primal being, yang artinya kamu ga punya indikasi untuk berpikir jauh, cenderung sembrono, namun kamu akan jujur akan apa yang sedang kamu rasakan, good or bad you're just being honest.
Bandingkan dengan orang yang sedang dalam kondisi prima, dia akan menjadi lebih tajam, lebih akurat, namun punya indikasi untuk menutupi kejujuran, apa yang dia katakan punya probabilitas untuk apa yang menghasilkan output terbaik bagi dirinya.
true story.

sedikit melenceng dari pembicaraan, kamu tau kenapa Hitler begitu berpengaruh dan punya karisma yang besar? salah satu teknik andalannya adalah: dia selalu pidato di sore hari. Kenapa sore hari? karena sore hari disaat kondisi fisik sedang turun, orang akan lebih mudah untuk dimanipulasi, ditanamkan doktrin, dan keterbatasan fisik akan membuat proses refusal tertunda atau dimatikan samasekali. He is a brilliant man, too bad he choose a wrong way, or at least what other people think "it" is a wrong way.

cerita diatas menunjukkan bahwa dibalik kelemahan seseorang terdapat sebuah kejujuran. Orang cenderung pasif, namun dia tidak akan berpikir repot untuk berpura-pura menjadi apa yang bukan dirinya. Come on, we are all just human, we all have our own darkside inside us, the more you oppress it, like a timebomb it will explode in one or other way, the problem is how can you make this timebomb explode without give any harm to yourself and other people, especially the one that you love.

and do you know why I write this whole thing? currently (3.40 AM here), I'm shotting myself a Jaggerbomb. It is bad kids, don't do it. But in other way, it give me a sudden passion to write and share this kind of blabbering random thing. I'm just being honest, currently I am, I got so many things running in my head. Probabilities of what-if theory that maybe not real, many alternatives of expectation, how if I failed it, or will I find happiness if that scenario works. And in the end I realized that I just want to be my own self, if you can't be honest to even yourself, how can you even honest to other people.

find you own zen, your meditative state, and when you can finally let it flow, accept it, love it, it is who you really are

Melogikakan Ekspektasi

ex·pec·ta·tion (kspk-tshn)
n.
1.
a. The act of expecting.
b. Eager anticipation


if there are many things I learned about life, one of the most important thing is how you should not giving anyone any expectation.

expectation fails me, not only once or twice, a lot.
When you have a high expectation, once it fails you, it will slap you real hurt. In other hand, if you have no expectation of something and things turned out to be good, you will feel a great happiness out of nowhere. Even a simple good thing can make you in the state of "smiling like a stupid person" because you have no expectation of it.

care of other people as you should care for them. You don't need to ask them to return a favor of things that you already did to them, the good one. I'm not talking about debt system, it's not an obligation that they need to return, if they meant it they will show it to you. If don't, you don't need to feel bad about it because you make no expectation of it.

I used to say this to a friend, "you're hurt because of your own expectation of someone, rather than make them to fulfill your expectation it is better to change your own expectation, lower it, or just don't make any of it"
alas, I'm a prisoner of my own device.

learn from me, learn from your friends, I want you people that read this to be happy.


ditulis sambil mendengarkan Morrissey - Irish Blood, English Heart
"Irish blood, English heart, this I'm made of
There is no-one on earth I'm afraid of
And no regime can buy or sell me"

Wednesday, 27 April 2011

Pertanyaan sore hari: are you my friend?

Jadi ceritanya hari ini di kelas statistik ada kejadian yang cukup goblok, temen saya sebut saja si R dan si W hampir mau berantem gede gara2 hal yang sebenernya ga penting: parfum.
si R ini masuk kelas dengan bau parfum yang cukup menyengat, terus si W spontan bercanda, "dude, gile lu bau parfumnya mantep abis, are you hitting someone here?". Si R juga bales dengan bercanda, "iye, gw lagi ngincer lu berdua (ngomong sama gw sama si W)". Oke sampe disini masih asik2 aja, kita bales juga dengan ketawa2 bego. Nah setelah kelas dimulai sekitar setengah jam, si W ini tau2 protes lagi, "anjeeeng R, bau parfum lo, hahaha". Nah disini si R mulai agak males diprotes mulu, "ah bacot lo!". Si W juga bales, "lo orang negara mana sih, sensitif amat!". Situasi mulai agak memanas setelah 2 orang ini saling sahut2an cuma gara2 parfum. Saya yg udah mulai males akhirnya slap some senses back to their mind, "are you guys fucking pussies?? We all men here, calm down, it's just a fucking perfume!". Akhirnya mereka diem dan suasana agak kembali adem.
Diakhir kelas si R ngomong sama gw, "dude, sori yg tadi, bukan maksud gw sensitif gitu, cuma gw ga nganggep si W itu temen gw, okelah lo temen gw ga masalah kalo lo becanda2 gitu. Gw mulai gini juga gara2 dulu gw sering sok2an becanda sama temen Thai, tapi respon mereka malah gini "ngapain lo ngomong kayak gitu, lo kan bukan temen gw" jadi gw mulai bersikap gini sekarang"

nah paragraf diatas ini cuma intro doang benernya, dari pembicaraan dengan si R ini saya jadi memikirkan banyak hal. Emang apa sih yg jadi kriteria seseorang bisa dikategorikan teman atau bukan?

buat saya sih simple, begitu saya mulai berkenalan dengan seseorang, terlibat pembicaraan, maka saya menganggap dia teman. Disini status seseorang yg nobody berubah menjadi teman. Saya pribadi lebih suka menyebut teman disini adalah status ground zero, neutral, dan saya ga mau atau lebih tepatnya ga gitu suka membuat strata di dalam status tersebut.

But aren't we all just human? We love to make caste system even in smallest simplest thing in our life. Dari status "teman" we made many subtypes: sahabat, drink buddy, pray buddy, TTM, fuck buddy, sworn brother, sworn sister, temen makan, temen yg nongol kalo butuh doang, parasit, partner-in-crime, dll. Dan bagai sebuah sistem kasta, status spesial diberikan sesuai tingkat kedekatan kita dengan seseorang, ain't all lover starts as friends? Lalu ga dikit juga teman yang turun kasta menjadi musuh. Oh we are all so simple, humankind.

so, if sometimes later I suddenly love you, are you still my friend?
so, if sometimes later I hurt you and you stop talking to me, are we still friends?
like Ted Mosby said, "so look at we, we are just two people who pretend to be friend just because it would be inconvenience not to"
if sometimes later I change your beer into milk, are we still friends?
if sometimes later I rarely give you some satyrical jokes and give you sweet words and praise instead, are we...still friends?
so if sometimes later I throw you a grenade...err jost joking, who the fuck gonna throw people some grenades, are you a moron?

oh iya, perlu diingat juga bahwa teman itu berbeda dengan keluarga. Meskipun itu sohib kamu yg paling deket, tetep ada batasan yg membedakan dia dengan keluarga. Personally, ini lebih kearah attitude,
bagaimana kamu respect terhadap keluarga, ada value tersendiri yang tak tergantikan oleh siapapun, dan untuk memasukkan seseorang sebagai anggota keluarga itu bukan
hal yang sepele, seperti misal, pipis di semak belukar. #ganyambung #biarin

keterangan gambar disamping: bukti belum ditemukannya KB. Beyond salvation!
ada kejadian beberapa minggu yang lalu ketika saya main FB, secara mendadak ada yg memberi family request kepada saya. Padahal saya serius ga kenal bocah itu. Mana status yg dia requestkan kepada saya adalah: son. Ini masih bocah bisa2nya nganggep gw son, sungguh delusional.

Jadi postingan sore hari ini sih saya cuma pengen bertanya sama pembaca sekalian, apa sih yg mengkategorikan seseorang menjadi teman atau bukan? perlukah strata dalam pertemanan? perlukah kita bersandiwara, wouwoooo...

udah ah saya mau makan sate sama durian monthong dulu, selamat sore!

Tuesday, 19 April 2011

Treasures are Found Just Around The Corner

Another Tuesday, another free day! kenapa bisa begitu? karena semester pendek ini saya masuk kelas cuma 3 hari, maka setiap hari selasa dan kamis saya libur deh, mehehehe.
Hari ini seharian saya dedikasikan buat beres2 kamar, sungguh niat yang mulia, niat yang ga akan jalan kalau misal kamar gue ga diserang semut2 laknat dari neraka! Jadi ceritanya tadi malem gue kelaperan, terus bikin indomi deh. Nah waktu bikin indomie ada yg nyecer beberapa, eeeeh paginya tuh ceceran udah diperkosa aja sama segerombolan semut.

singkat cerita, akhirnya kamar saya sekarang udah layak huni lagi. Selain melakukan genosida terhadap semut, tadi gue juga bersihin rak buku. Handout2 semester kemaren yg udah ga kepake dibuangin, kertas2 ga penting juga dibuangin, dan sembari saya membersihkan rak buku, saya juga menemukan harta karun!
ini dia harta karunnya:

kumpulan buku-buku lama yg gue punya!

ini nostalgik banget! buku-buku ini adalah saksi bisu sejarah yg gue kumpulin semenjak dateng ke Thailand sampe sekarang, ga gitu banyak sih, beberapa ada yg bawa dari indo, beberapa ada yg beli disini, mari kita lihat apa aja bukunya.


Nah ini kumpulan majalah tentang film dan juga musik. Dulu semasa masih kerja jadi penyiar tiap bulan baca Rolling Stone gratis di radio, ditumpukan itu juga ada Trax magazine, tapi kalo soal muatan isi sih jelas lebih menang Rolling Stone. Itu ada juga Ripple sama Across magazine, majalah tentang subculture lupa belinya di mana. Dan beberapa majalah sisanya adalah majalah tentang film. Buat Cinemags gue udah ngikutin majalah ini dari dulu, di jaman internet belom masuk desa majalah ini adalah pemuas dahaga tentang info-info film baru yang bakal nongol. Dibanding dengan majalah2 film selevelnya, majalah ini cukup oke kok.


nah kalo ini adalah kumpulan majalah tentang sneakers. Sebenernya lebih banyak lagi tapi beberapa kemaren gue bawa pulang ke indo. Soal konten sih masih lebih bagus Sneakerfreaker Magazine, tapi kenapa saya doyan koleksi ini? soalnya majalah ini gratis! bisa didapatkan secara cuma-cuma di tempat2 nongkrong semacem True Coffee dan warung2 yang jualan sneakers. Kekurangan dari majalah ini adalah, mereka nulis pake bahasa Thai, ya mana gue mudeng mereka ngomongin apa. Tapi majalah ini lumayan berguna karena mereka ngasih lihat model2 sneaker baru, harganya berapa, dan dimana kamu bisa dapetin sneaker itu di Thailand. If you see this kind of magazine in Thailand, don't hesitate to grab one.


nah kalo yg ini sih kumpulan majalah dan buku random yg gue punya. Itu yg judulnya Snuff belakangan lagi gue baca, salah satu novel bikinannya Chuck Palahniuk, author favorit gue. Ceritanya ada 1 bintang bokep yg mau mecahin rekor dunia dengan ML sama 600 orang, diantara 600 orang itu ada yg mau bunuh doi. Diceritain dari sudut pandang 4 karakter, satir, gelap, dan nggapleki khas Chuck Palahniuk, hahahaha. Itu ada juga majalah National Geographic versi Thailand, dapet gratisan sih. Freakonomics ini juga keren lho, ngomongin tentang perekonomian dari sudut pandang yg ga biasa, contohnya nih: apa yg menyebabkan bertambahnya kriminalitas? jawaban yg cukup nyeleneh dari buku ini adalah, karena banyak bayi lahir di lingkungan yang penuh dengan kemiskinan dan kekerasan. Jadi kesimpulannya: aborsi itu membantu menekan jumlah kriminalitas dan kemiskinan. Cara yg cukup cutting-edge, daripada ntar bayi itu tumbuh gede jadi kriminal, mending ga usah dilahirin sekalian di lingkungan yang salah. Btw, denger2 Freakonomics ini nanti mau dibikin versi filmnya lho, jadi penasaran kayak gimana filmnya.
Ada juga Benny and Mice beli jaman dulu waktu pulang indo. Dan ternyata.... gue punya juga lho majalah FRONT! Front magazine ini keluaran UK, err...majalah stensilan sih, gatau juga kenapa dulu gue beli kayak ginian, penasaran doang kayaknya, tapi lumayan bagus kok, serius deh, hahahahaha :P

seiring dengan makin canggihnya teknologi dan juga cepetnya akses internet, maka saya mulai jarang beli buku lagi. Kebanyakan bisa baca online atau tinggal download versi e-book, atau pdf filenya sih. Semacem komik2 Marvel kayak Civil War, What-If, Runaways, gitu saya ada lho di laptop. Komik2 jepang gitu juga tinggal download gampang pake domdomsoft. Tapi tetep aja feeling baca buku dan aroma kertas itu ga tergantikan oleh versi digital yang ada. Jadi pesan saya: kalo ga tertarik2 banget tentang konten suatu buku, download aja sih gpp. Tapi buat buku yang kamu beneran pengen, buat koleksi, memiliki value lebih, ga ada salahnya kalo kamu beli versi originalnya, harga yang kamu keluarkan setara kok dengan kepuasan yang kamu dapet. After all, satisfaction is not measured by how much money you spent, it measured by how much happiness you get.

Monday, 18 April 2011

La Horde & The Girl with the Dragon Tattoo

this post were originally made on Sunday, September 26, 2010 at 3:34pm

Final exam period! Definitely a good time to watch another good movies.


Belakangan gw nonton beberapa film, bukan film baru sih tapi cukup oke buat hiburan semasa ujian. Pertama gw mau nulis short review tentang La Horde, french gangster-zombie movie, tentang polisi lagi konflik sama gangster terus waktu lagi asyik2nya berantem tau2 ada wabah zombie, akhirnya 2 kubu yg berseteru ini harus kerjasama demi bertahan hidup. Lumayan oke sih, di film ini dihadirkan cara baru buat melawan zombie yg jarang ada di film2 lain: bare hands fight! Serius, survivor disini beneran berantem gitu sama zombie, pukul2an, dijedukin tembok, sampe dijatuhin kulkas. Some scene are fishy though, kayak zombie pertama yg nongol disini adalah pria yg ditembakin sama para gangster, ga tau kenapa eh tau2 doi jadi zombie gitu aja, kapan kegigitnya? Terus zombie2 disini juga habis nggigit mati korbannya ga cuma dihambur2in isi perutnya doang, tapi mayatnya dibawa ke suatu tempat, buat apa? buat dikumpulin bikin persediaan makanan! Cuman gw heran, para zombie disini masih idiot kayak teman2 sejenisnya di film lain, selain mereka bisa lari, bisa lihat dan denger korbannya, tapi buat bikin ransum makanan, wow, gw jadi mengira di film ini belum dilihatin ada Zombie Queen yg mengontrol para zombie, atau General Zombie di Dead Snow, atau half-zombie-overlord tipikal Kerrigan di StarCraft, hahaha.


Personally, kalo soal tension, film ini masih dibawah REC2 sih (REC2 emang bukan zombie, something much more evil than that, tapi gw suka panic effect yg dibangun di film ini, one of handheld-based-view horror movie that you MUST watch), buat soal zombie yg lari, 28 Weeks Later still creep you out, itung2 buat referensi film zombie boleh deh kalian tonton kalo lagi ga ada kerjaan, atau mungkin kebanyakan kerjaan tapi ga tau mau ngapain

emang sih di film ini Zombienya buanyaaaak


if you ever eat somebody put your hands uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuup!


and yes, zombie doesn't mess with a Nigerian

fuck yea :)



review kedua: The Girl with the Dragon Tattoo (Swedish: Män som hatar kvinnor)


film pertama dari Millenium Trilogy based on novel yg ditulis oleh Stieg Larsson. Jagoan di film ini ada 2, Mikael Blomkvist, seorang jurnalis yg kerja di majalah Millenium, dia terkena kasus pencemaran nama baik gara2 nulis tentang Wennerström, seorang corrupt Swedish industrialist. Disaat masa2 terpuruknya, tau2 aja dia dapet kerjaan dari milyuner bernama Henrik Vanger, menyelidiki tentang kasus ponakannya, Harriet, yg hilang mendadak 40 tahun yg lalu. Vanger family ini terdiri dari banyak orang serakah yg dicurigai oleh Henrik membunuh ponakannya yg paling di sayangi biar si Henrik crumble down. Si Mikael diberi kerjaan ini soalnya waktu kecil dia pernah main sama si Harriet, reputasi dia sebagai jurnalis juga udah mumpuni. Jagoan kedua di film ini adalah Lisbeth Salander, cewek bergaya eksentrik campuran goth-punk dengan tindik dimana2 dan tato naga gede di punggungnya. Dibalik gayanya yg nyleneh, dia ini sebenernya hacker dan researcher jenius yg punya ingatan fotografis! Pertama2, si Lisbeth menyelidiki Mikael gara2 dapet kerjaan dari bironya, tapi lama kemudian dia jadi tertarik sama kasus yg lagi ditangani Mikael dan akhirnya mereka berdua jadi partner.

Film ini ga cuma nyeritain tentang nyari keponakan Vanger yang hilang doang, tapi ternyata kasus hilangnya si Harriet itu nyrempet ke kasus2 pembunuhan yang lain juga sejarah gelap Vanger family. Isu sadistic ritual Nazi murders dan kekerasan seksual terhadap wanita juga diangkat disini.

Durasi film ini panjang juga sih, 2 jam 32 menit, tapi ini bukan tipikal film yang kalo kamu tonton lama2 bikin ngantuk dan plotnya ga jelas, alur disini dibangun dengan smooth, pengembangan karakter dan visual diperhatikan dengan bagus, contohnya waktu adegan peluru nyrempet kepala Mikael, disitu dilihatin rambut Mikael kepotong mbentuk alur peluru terus darah mengucur dari kepala, fresh blood! Karakter Lisbeth yg bermasalah juga digambarkan dengan sempurna, nih cewek ya, kalo digambar di kartun bakal kayak gini:

hampir sepanjang film dia ga pernah senyum!

padahal aslinya (Noomi Rapace) lumayan banget lhoooo


Lisbeth Salander ini tercipta gara2 sang penulis novel pernah mengalami trauma, sewaktu dia berumur 15 tahun dia pernah lihat seorang cewek di gang-rape tapi dia ga bisa nolong apa2, and yes, nama cewek itu adalah Lisbeth.

First movie of the trilogy cukup membuat gw terkesan, film kedua The Girl who Played with Fire sedang dalam proses download, dan film ketiga The Girl Who Kicked the Hornets' Nest sudah ada di dalem eksternal HD, another good movies to watch in another time.

notes: read the books, kayaknya sih di novel diceritain lebih detail daripada di filmnya :D

KICK-ASS

this post were originally made on Tuesday, July 13, 2010 at 3:17am

dan pernah dimuat di Trailer-Magz juga lhoooo


pernah merasa kecewa dengan sebuah film tapi naluri hewani di dalam dirimu merasakan getaran orgasmik yang sangat memuaskan berulang kali? First, no, I'm not talking about watching a movie as "guilty pleasure", I'm talking about watching a damn good movie (paling nggak menurut selera gw). Second, yes, I'm talking about KICK-ASS.

buat gw yg mengikuti komiknya dari chapter 1-8 book one (book two belom keluar kayaknya, cmiiw), ada beberapa alesan yg membuat gw agak kecewa:

mengharapkan scene seperti ini di film?

hell noooo! it's not Quentin Tarantino movie!

KICK-ASS' pathetic life?

well, he's not that pathetic actually..

dan yg ketiga gw ga tau mau masukin ke kategori mengecewakan atau malah memuaskan adalah...
jalan cerita yg beda dari komik.
good point soalnya gara2 ini gw jadi nggak sotoy udah tau kejadian berikutnya gara2 udah baca di komik, bad point..well..ya paham lah perasaan orang yg udah baca cerita aslinya di komik dan lihat ada perombakan di filmnya. Less gore emang, tapi tetep renyah dan lezat untuk dinikmati.

Buat storyline gw ga mau banyak komen deh, baca aja komiknya, atau kalo kamu lagi males gampangnya gw ceritain deh, ceritanya ada pemuda ordinary yg hidup cuma exist doang, autis dengan komputer dan imajinasi hormon remaja labil namanya Dave Lizewski. Dia superhero comic freak dan pada akhirnya memutuskan buat menjadi superhero wannabe dengan nama KICK ASS padahal dia ga punya skill berantem apa2, senjatanya aja cuma pentungan. His life mulai screwed up setelah dia ketemu sama superhero lain yg ternyata adalah the real vigilante bernama HIT GIRL dan BIG DADDY yg bertindak bagaikan Frank Castle a.k.a The Punisher yg hobi bunuhin mafia, and they love blood so freaking much. Singkat ceritanya gitu sih, cuman cerita di movienya ini udah diramahkan dengan kamu yg belom baca komiknya kok.

Oke, gw udah bahas tentang bad points film ini, sekarang tentang good points:
- Musik yang tepat di saat yang tepat adalah salah satu poin kuat yang bikin film ini adegan berantem semi-gorenya sangat nikmat buat dinikmati bahkan buat penonton yang ga gitu doyan lihat darah. Contoh simple, Omen - The Prodigy dipake buat adegan Kick-Ass berantem, Per Qualche Dollaro In Piu - Ennio Morricone dipake buat scene berantem Hit-Girl, bahkan An American Trilogy - Elvis Presley dipake buat adegan eksplosif yang sangat epic!

- Chloë Grace Moretz sebagai Hit Girl bener2 fascinating! Di satu sisi dia bagaikan reinkarnasi The Bride versi anak2, kejam, kalem, mematikan. Tapi di satu sisi dia bener2 lucu menggemaskan bagaikan Kirsten Dunst di Jumanji :P Pokoknya dia ini karakter favorit gw di film ini deh, see

tuh kan, cuma killer kaya gini ini nih yg bisa bikin kamu menyanyikan lagunya the smith "to die by your side, well the pleasure the privilige is mine" sebelum akhirnya kepalamu diledakkan.
sekarang aslinya dia masih 13 tahun, let's see 5 tahun lagi dia bakal jadi seranum apa, mehehehe

from cutey

to deadly


overall KICK-ASS bener2 film yang sangat menyenangkan ditonton sendirian atau bersama teman2 asal tidak bersama adik kecil yang mengharapkan cerita superhero jagoan kita semua (menilik kasus Watchmen) atau bersama kak Seto dari dinas perlindungan anak, karena Hit Girl memang nggak merokok dari balita tapi dia bisa membuat otak musuhnya berhamburan dengan tetap tersenyum manis :)

Dawn of The Dead

lupakan zombieland, shaun of the dead, atau film yg berusaha melucu-lucukan zombie. This is the real deal!
Banyak hal yang bikin saya ketawa2 sendiri sewaktu nonton film ini. Bukan ketawa gara2 filmnya norak, zombienya goblok, atau akting pemain yang dibuat lucu, tapi gara2 film ini asli keren banget.

Dimana lagi coba km bisa lihat zombie loncat kodok

zombie cina buntung, see the face? priceless

eh si doi ketembak deh

ada juga zombie hamil

sampai yang paling keren, ada cameo dari star wars

JABBA THE HUTT!

tuh kan rame, hahaha
eh tapi serius, ini film zombie yang asik buat ditonton. Thrillernya dapet, karakternya juga nggak berlebihan, alurnya enak buat dicerna, pokoknya porsinya pas deh.
Cerita film ini berpusat kepada sekumpulan orang yg selamat dari wabah zombie dan membuat benteng di dalem mall. Terus nanti jumlah survivor makin bertambah dan bergabung di gerombolan mereka. Cuman bantuan ga kunjung dateng dan mereka punya masalah2 yg harus mereka tangani sendiri sekaligus memikirkan gimana caranya menyelamatkan diri mereka dari wabah zombie.

Seperti kebanyakan karya George A. Romero yg lain, ga pernah diceritain kenapa tau2 ada wabah zombie, pokoknya asik aja ngelihat gimana para survivor itu bertahan hidup dengan pengeksekusian cerita yang berkelas dan tetap seru buat ditonton sampai akhir.
Oh iya, ending sebenernya dari film ini ada di sepanjang credit title terakhir lhoooo, jadi jangan buru2 dimatiin kalo udah kelar nonton :)

Best quotes: "When there is no more room in hell, the death will walk the earth"
Best actor: Chips!

reason? it's cute. enough said, hahaha